KEN TELAH MATI!
Mei 27, 2008Ken
telah mati,
jiwanya sudah bebas
ia sudah kubunuh
hari ini
di lembaran ini
ucapkanlah selamat tinggal…
22 Mei 2008
Catatan Ken (dalam kenangan)
Ken
telah mati,
jiwanya sudah bebas
ia sudah kubunuh
hari ini
di lembaran ini
ucapkanlah selamat tinggal…
22 Mei 2008
aku mengakuimu
mengakui cintamu
tapi ku sering menduakanmu
menigakanmu, menyepuluhkanmu
menyeratuskanmu dan membuatmu keseribu,
sejuta…entah berapa lagi
sungguh itu semua terjadi tanpa aku sadar,
kebodohanku sebagai manusia
maafkan aku
tak terhitung
ku jumpaimu
lalu mulut manisku memujimu, memujamu
tapi hatiku tercecer di alexandria
di new york, di attaba, di malioboro
dan terburai di jalanan, di dapur,
di atas kasur, di tepi nil, di ujung bromo
di warung, di sepiring nasi, di secangkir kopi
di atas keyboard
dan di wajah gadis-gadis itu
entah di mana lagi…
maafkan aku
sudah lama aku
membohongi diriku sendiri dan
membohongi orang-orang yang datang padaku
dan aku mendatangi mereka
kukatakan pada mereka
aku mencintaimu
oh alangkah piciknya aku
alangkah bodohnya diriku, menyepelekan cintamu
terbata-bata membaca cinta itu
maafkan aku
kini, aku datang padamu
dengan cinta yang masih tersisa
di sudut hatiku
ah tidak…
bagimu sepenuh hatiku
mengakui kepicikanku padamu
mengakui kebodohanku
dan mengakui bahwa aku…
selalu menemuimu untuk acuh tak acuh
pada cintamu
maafkan aku
kini, aku datang padamu
berharap maaf darimu
kini, ku kembali padamu
membawa cintaku
dan berharap cintamu
masih
untukku
2008
Inilah Indonesia
Negeri kaya raya penggalan surga
Daratan terhampar luas dan subur
bukan gurun pasir gersang kerontang
Lautan membentang dari Barat ke Timur
Tanah air lebih panjang dari London ke Moscow
Minyak menyembur dari segala penjuru
Timah, batu bara, berlian dan emas tiada tara
Tanamlah sebiji padi, akan kau tuai 70 kali biji padi
Indahnya pemandangan terbentang dari Utara ke Selatan
dan bukan gurun pasir kering kerontang
Hutan hijau paru-paru dunia
Inilah Indonesia, negeri kami
negeri tiada bandingan di wajah Bumi
negeri kami tidak beku sperti Siberia
negeri kami tidak sepanas Gurun Sahara
negeri kami menyenangkan
hawanya sejuk sepanjang tahun
Namun, ada yang aneh
Ratusan tahun kami tinggal di negeri ini
Ratusan tahun juga bangsa ini menjadi kuli di negeri sendiri
Sungguh celaka..
Setiap bayi yang lahir dari rahim pertiwi
harus memanggul hutang
yang ia sendiri tidak pernah memakannya
Bahkan ia tidak tahu
hutang itu datang dari mana,
dan kemana perginya
Wahai Pencipta..
Rakyat negeri subur ini harus dipaksa tersedak
ketika makan tempe…
Kedelai yang seharusnya bisa tumbuh di tanah ini
harganya melambung setinggi bintang.
Mungkin sudah saatnya rakyat Indonesia,
makan pasir dan kerikil
Oh…tidak,
pasir dan kerikil pun
sudah dicuri dan dijual ke negeri tetangga
Tungau-tungau itu ingin melahap semuanya
mengenyangkan perut mereka yang sudah buncit
Atau sudah saatnya rakyat Indonesia minum air saja,
oh tidak, air negeri kami sudah tercemar limbah pabrik
dan lumpur tanah longsor dari gunung
Tanah-tanah itu longsor
karena kayu-kayu kekasih mereka dijarah
diculik dan diperkosa
Rakyat mati terendam air bah
Kalau begitu kini saatnya
rakyat makan angin saja
oh..tidak, angin Indonesia
sudah tercemar asap pabrik
kendaraan, dan kebakaran hutan
Oh..apa yang terjadi?
Rakyat sekarat…
Mereka sedang kesakitan memikul akibat
dari dosa-dosa yang tidak mereka lakukan
dosa-dosa para koruptor dan bandit bermuka dua
Sementara para bandit itu berpesta pora
di restauran-restauran dan bar-bar
Rakyat kecil menggigil kedinginan
kelaparan dan kesakitan
Mereka membeli obat
agar kesakitan mereka hilang
apa nyana, tambah sakit
mereka telah menelan obat-obat palsu jahannam
yang sakit makin sakit
sementara obat asli melambung tinggi
Aneh sungguh aneh
Di dalam negeri kaya raya ini
ada suami mencuri pengeras suara masjid
untuk menebus biaya persalinan istrinya
di rumah sakit (yang sering bikin tambah sakit)
Sudahlah aku tak mampu berkisah lagi
selamatkanlah dirimu sendiri…
2008, bulan-bulan pertama
Ku tawarkan persahabatan
nan tulus
Sahabatku
di sini, di antara bentangan tangan ini
tempat berkeluh
dan berkesah
menuangkan segala gundah
gulana dan bahagia
tawaran yang dapat diterima
diacuhkan, ditolak
bahkan dicampakkan begitu saja
lain tidak
ku kira kemarin engkau telah pergi
dan aku mengerti
pun aku hampir melupa
tiba-tiba kau datang lagi
semoga tak ada sesal
sekarang dan nanti
jangan kau kira
aku merasa nyaman
seperti ini
hanya sebuah cara…
untuk membahasakan hati
Sampai kini, sejujurnya
masih saja ku bertanya,
Kemana harus aku langkahkan dua kaki ini
yang masih berayun-ayun
di dipan reyot nan lapuk